Sebagai seorang mahasiswi jurusan Teknologi Pangan di Universitas Bina Nusantara, menulis laporan bukan lagi hal yang asing bagi saya. Dalam seminggu, ada 3 laporan untuk 3 mata kuliah yang berbeda yang harus dikumpulkan. Dan saat ini, saya baru saja menyelesaikan laporan terakhir untuk deadline minggu depan. Rasanya sangat lega, namun hanya untuk beberapa saat. Mengapa? Karena besok saya akan beraktivitas dari pagi hari. Subuh malah, karena besok ada event yang telah saya tunggu sekitar sebulan ini, yakni Run For Leprosy! Dan saya takut ketiduran. Karena itulah, saya sampai memasang jam weker untuk membangunkan saya pada pukul 03.30 esok hari.
Hari Minggu, tanggal 15 Maret 2015, jam 03.30 pagi.
Biasanya, tidur dibawah 5 jam akan sangat menyiksa untuk saya. Namun hari ini, sepertinya hal itu tidak berlaku. Mungkin karena saya terlalu excited karena akan mengikuti program yang diselenggarakan oleh TFI ini, karena saya tidak sendiri. Saya akan berlari bersama dengan teman-teman saya. Karena itu setelah bangun, saya langsung bersiap untuk pergi ke kampus ASM bersama dengan beberapa orang teman.
Singkat cerita, saya dan teman-teman sampai di halaman gedung ASM. Disana sudah terdapat banyak sekali orang, mulai dari mahasiswa-mahasiswi BINUS Alam Sutera, BINUS Kemanggisan, BINUS JWC, berbagai komunitas pelari, rekan-rekan leprosy, sampai rekan-rekan dari media. Sembari menunggu jam 06.00 yang telah ditentukan sebagai waktu start pelari 5K, instruktur senam pun dikerahkan untuk membantu kami yang akan berlari melakukan pemanasan. Berbagai gerakan mulai dari statis sampai dinamis dilakukan agar kami siap berlari. Saking banyaknya orang yang ikut, seringkali kami sampai harus bersenggolan satu sama lain. Setelah selesai senam, kamipun berdesakan di garis start. Hal itu tidak menjadi masalah karena kami sangat bersemangat mengikuti segala aktivitas yang telah dijadwalkan. Lalu waktu berlari dimulai. Kami, para peserta, bak lautan manusia yang menyerbu garis finish.
Sampai di garis finish merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Memang, waktu pencapaian saya kurang lebih satu jam sepuluh menit. Cukup lama. Akan tetapi saya tetap senang, karena selain saya berlomba dengan teman-teman saya hingga titik darah penghabisan, ada hal lain yang juga saya dapatkan dari event ini, yaitu kesadaran bahwa para penyandang kusta seharusnya tidak dijauhi.
Disaat saya berlari, banyak orang yang juga ikut berlari bersama saya. Ada yang mendahului, ada yang didahului. Ada yang berkulit putih, ada yang berkulit cokelat. Ada yang yang tinggi, ada yang pendek. Ada yang kurus, ada yang gemuk. Ada yang sakit, ada yang sehat.
Disaat saya berlari, saya berlari dengan sesama manusia.
Manusia-manusia yang berbeda, namun semuanya sederajat.
Semuanya memiliki hak yang sama.
Saat saya berlari dan berpapasan dengan para penyandang kusta yang juga sedang berlari, saya tidak menemukan alasan untuk menjauhi mereka.
Kusta bukan penyakit kutukan.
Sebelum mengikuti program Run For Leprosy ini, saya sendiri sebenarnya sudah pernah mengerjakan suatu proyek, yaitu Pembuatan Lubang Biopori di Yayasan Arrahman, Sitanala, Tangerang.
Daerah tersebut adalah tempat bermukimnya saudara-saudari kita yang terkena kusta beserta keturunannya, karena sebagian besar masyarakat yang tidak mau menerima mereka lagi setelah mereka sembuh. Dan disana saya melihat sendiri, bahwa penyakit yang pernah / sedang mereka derita, yakni kusta, tidak mempengaruhi keseharian mereka. Mereka tetap dapat beraktivitas dengan baik, tidak kalah kuat dan hasil pekerjaan mereka tidak kalah baik dengan masyarakat yang sehat.
Untuk tambahan informasi bagi readers, bahwa sebenarnya orang Indonesia pun sulit tertular kusta.
Penyakit ini akan menjadi menular apabila kita hidup dalam lingkungan yang kotor, yang jorok, dengan diri kita yang tidak terawat.
Namun pada kenyataannya, orang-orang yang, setidaknya, dapat membayar untuk mengikuti program ini (program ini tidak murah, tentu karena semua support dalam bentuk racepack, consumption, media, bahkan p3k, semuanya terjamin dan berkualitas) pasti setidaknya juga punya lingkungan hidup yang layak, yang tidak mendukung diri mereka untuk tertular penyakit ini.
Demikian pengalaman saya mengikuti Run For Leprosy ini. Saya rasa, program seperti ini seharusnya lebih sering dilakukan karena dapat menjadi sarana informasi yang sangat efektif tentang penyebaran informasi mengenai penyakit kusta. Kusta tidak berbahaya. Saya harap, pembaca blog saya dapat lebih memahami tentang penyakit kusta sehingga tidak lagi menjauhi penderitanya, karena sebenarnya hanya dengan tidak menjauhi dan mau berbaur dengan mereka, itu saja sudah seperti suatu bentuk dukungan yang besar bagi mereka.
#salampolkadot !